Oleh: sriastutik | Agustus 8, 2009

cangkrangen

Cangkrangen adalah nama lain penyakit Varicella, Cacar Air atau Cangkrangen (Jawa). Disebabkan oleh virus. Seminggu yang lalu baru saja saya terkena penyakit tersebut. Sakitnya ? Jangan ditanya. Kepala rasanya serasa dihantam palu godam , badan demam menggigil, panas, batuk, tenggorakan sakit, nafsu makan hilang. Pada saat masa puncak, 2 hari saya tidak bisa tidur. Mata merem, tapi tidak bisa tidur. Gelisah.Yang bikin tambah nelangsa, di tubuh “kekar” saya ini, muncul bentol-bentol yang menyeramkan. Mulai dari ujung kaki sampai ujungkepala. Terpaksa, saya ijin tidak masuk kantor selama seminggu,hiatus ngeblog (jawaban atas pertanyaan ibu satu ini) dan terpaksa (lagi) harus pisah rumah sementara dengan jagoan baru saya,Advaya (diungsikan ke rumah kakak saya di daerah Kayu Manis, JakartaTimur). Kenapa saya harus dikucilkan untuk beberapa saat dan tidak boleh kontak dengan orang? Karena penyakit ini sangat menular dan berbahaya terutama pada orang yang sudah cukup dewasa seperti saya.Untuk bayi yang baru lahir pun, juga sangat berbahaya karena virus laknat yang menyerang ini dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak kita inginkan pada bayi yang baru lahir. Alhamdulillah, sampai sekarang Advaya masih sehat dan tidak tertular. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan pada jagoan baru saya tersebut. Amin. Gejala/Tanda terkena Cacar Air : Gejala cacar air hampir mirip seperti kena influenza. Oleh sebab itu, hampir sebagian yang terkena penyakit ini tidak sadar bila sebenarnya terkena cacar air. Pada awalnya, saya pun demikian. Biasanya, kalau tubuh saya sudah memberikan peringatan dini berupa meriang,cepat- cepat saya berikan metaflu, obat flu andalan saya plus pijat badan. Biasanya keesokan paginya, saya sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Lha, ini sudah 2 hari sampai obat flunya habis, kok meriangnya tidak sembuh-sembuh.Langsung saya putuskan sore itu juga ke dokter. Sebelumnya, mandi dulu. Tapi..eits…begitu lihat badan saya kok bentol-bentol dengan pola sentripetal. Wah…saya langsung yakin 100%kalau saya kena cacar air !!. Langsung saya telepon kakak saya yang kebetulan dokter untuk menanyakan obat dan langkah selanjutnya.Ternyata diberikan beberapa resep obat dan disuruh istirahat yang cukup. Waktu itu, saya “sedikit” protes karena seingat saya, waktu kecil sudah pernah terkena cacar air, kok sekarang kena lagi. Kakak saya menjawab, bisa saja kena lagi kalau kondisi tubuh kita memang sedang lemah dan tidak fit. Lewat pembicaraan via telepon, baru tahu juga, ternyata kakak saya yang dokter itu pada saat bersamaan, ternyata terkena cacar air juga. Halah…senasib sependeritaan kita mas… Obat Dokter biasanya meresepkan resep obat sebagai berikut bila terkena cacar (mohon dikoreksi bila ejaannya salah) : * Asklovir Tablet & Salep (untuk versi Generik). Versi mahalnya biasanya dikasih Zovirax Tablet dan Salep. Obat ini merupakan antivirus. * Paracetamol, untuk menurunkan panas * Imboost, untuk ketahan tubuh * Isoprenosine Untuk mempercepat daya sembuh sakit cacar ini, saya juga mendapat resep tradisional dari kakak ipar saya (bukan yang dokter) yang terlebih dahulu terkena cacar dan sudah sembuh yaitu minum air perasan lobak. Lobak diparut, diperas dan diambil airnya terus dicampur dengan air garam untuk menghilangkan bau anyirnya. Diminum sehari sekali. Menurut kakak saya, obat ini juga berfungsi sebagai antivirus. Obat antivirus lain yang cukup ampuh adalah Virgin Coconut Oil. Namun, yang perlu dicatat dan diperhatikan, resep obat dari dokter tetap harus diminum, secara bersamaan dengan obat tradisional tersebut. Pantangan Mitos yang berkembang di masyarakat, kalau terkena cacar air jangan mandi atau terkena air. Ada benarnya juga karena bila kita mandi dan bentol-bentol yang ada di tubuh kita pecah dan terkena bakteri dari air, penyakit cacar kita akan lebih parah. Bila anda tidak tahan untuk mandi, mandi dengan memakai airpanas dengan mencampurkan dettol cair untuk membunuh kuman dan pakailan sabun antiseptik (dapat dibeli di apotik). Selain mitos tidak mandi, mitos lain yang beredar di masyarakat adalah jangan keluar rumah dan tidak terkena angin atau udara luar. Bisa jadi,supaya penderita tidak menularkan penyakit ini ke orang yang sehat diluar rumah. Antisipasi untuk anggota keluarga yang tidak terkena Virus laknat ini hampir menyerang seluruh keluarga saya. Daya tularnya sangat tinggi sekali. Bagi anggota keluarga yang belum pernah sama sekali terkena cacar air,jaga kondisi badan, tidur yang cukup dan minum imboost tablet yang dapat dibeli apotik sehari sekali untuk pertahanan tubuh. Dapat juga minum VCO (Virgin Coconut Oil). Obat tersebut setidaknya dikonsumsi sampai semua anggota keluarga yang ada di rumah sembuh dari cacar air. Diusahakan, hindari kontak dengan penderita. Bila memungkinkan, penderita dipakaikan baju yang menutupi seluruh badandan dipakaikan juga masker di mulutnya. Pada saat isteri saya terkena cacar, semua hal tersebut tidak saya lakukan. Saya pun tidak mengkonsumsi obat di atas satu pun. Pada saat itu, saya berkeyakinan bahwa saya tidak akan terkena karena seingat saya dulu, saya pernah terkena cacar air. Asumsi saya salah. Ternyata saya bisa terkena lagi. Pembantu rumah saya yang belum pernah terkena cacar air sekalipun malah sehat-sehat saja meski tinggal satu rumah dengan kami yang kena cacar. Salah satunya, mungkin karena pembantu di rumah, saya suruh mengkonsumsi Imboost dan VCO tadi (mungkin sudah takdir Tuhanjuga). Cacar air dan Ibu Hamil Hal terberat yang saya rasakan adalahketika isteri saya yang mengandung jagoan saya yang berumur 9 bulan 6hari akhirnya terkena cacar, sebelum akhirnya saya tertular juga setelahnya. Ini merupakan ujian dari-Nya. Pada saat itu, di Jakarta sedang terjadi banjir besar. Akses jalan di mana-mana terhambat. Dokter kandungan yang menjadi rujukan isteri saya selama hamil,rumahnya juga kebanjiran setinggi pinggang. Kalau menunggu terlalu lama, kasihan saya melihat isteri saya yang kesakitan dan janin bayi yang dikandungnya. Segera saya larikan isteri saya ke dokter kandungan lain yakni dr. Nadir Chan di RS YPK Menteng. Menurut dokter senior tersebut, cacar air ini sangat berbahaya bila janin sampai terkena. Memang secara teori tidak bisa menular lewat plasenta. Untuk kandungan dengan usia 9 bulan, tidak terlalu masalah. Lain ceritanyakalau terjadi di awal kehamilan terutama trimester awal karena dapat menyebabkan keguguran dsb. Singkat cerita, dr. Nadhir memberikan resep seperti di atas minus obat aadalah nama lain penyakit Varicella, Cacar Air atau Cangkrangen (Jawa). Disebabkan oleh virus. Seminggu yang lalu baru saja saya terkena penyakit tersebut. Sakitnya ? Jangan ditanya. Kepala rasanya serasa dihantam palu godam , badan demam menggigil, panas, batuk, tenggorakan sakit, nafsu makan hilang. Pada saat masa puncak, 2 hari saya tidak bisa tidur. Mata merem, tapi tidak bisa tidur. Gelisah.Yang bikin tambah nelangsa, di tubuh “kekar” saya ini, muncul bentol-bentol yang menyeramkan. Mulai dari ujung kaki sampai ujungkepala. Terpaksa, saya ijin tidak masuk kantor selama seminggu,hiatus ngeblog (jawaban atas pertanyaan ibu satu ini) dan terpaksa (lagi) harus pisah rumah sementara dengan jagoan baru saya,Advaya (diungsikan ke rumah kakak saya di daerah Kayu Manis, JakartaTimur). Kenapa saya harus dikucilkan untuk beberapa saat dan tidak boleh kontak dengan orang? Karena penyakit ini sangat menular dan berbahaya terutama pada orang yang sudah cukup dewasa seperti saya.Untuk bayi yang baru lahir pun, juga sangat berbahaya karena virus laknat yang menyerang ini dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak kita inginkan pada bayi yang baru lahir. Alhamdulillah, sampai sekarang Advaya masih sehat dan tidak tertular. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan pada jagoan baru saya tersebut. Amin. Gejala/Tanda terkena Cacar Air : Gejala cacar air hampir mirip seperti kena influenza. Oleh sebab itu, hampir sebagian yang terkena penyakit ini tidak sadar bila sebenarnya terkena cacar air. Pada awalnya, saya pun demikian. Biasanya, kalau tubuh saya sudah memberikan peringatan dini berupa meriang,cepat- cepat saya berikan metaflu, obat flu andalan saya plus pijat badan. Biasanya keesokan paginya, saya sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Lha, ini sudah 2 hari sampai obat flunya habis, kok meriangnya tidak sembuh-sembuh.Langsung saya putuskan sore itu juga ke dokter. Sebelumnya, mandi dulu. Tapi..eits…begitu lihat badan saya kok bentol-bentol dengan pola sentripetal. Wah…saya langsung yakin 100%kalau saya kena cacar air !!. Langsung saya telepon kakak saya yang kebetulan dokter untuk menanyakan obat dan langkah selanjutnya.Ternyata diberikan beberapa resep obat dan disuruh istirahat yang cukup. Waktu itu, saya “sedikit” protes karena seingat saya, waktu kecil sudah pernah terkena cacar air, kok sekarang kena lagi. Kakak saya menjawab, bisa saja kena lagi kalau kondisi tubuh kita memang sedang lemah dan tidak fit. Lewat pembicaraan via telepon, baru tahu juga, ternyata kakak saya yang dokter itu pada saat bersamaan, ternyata terkena cacar air juga. Halah…senasib sependeritaan kita mas… Obat Dokter biasanya meresepkan resep obat sebagai berikut bila terkena cacar (mohon dikoreksi bila ejaannya salah) : * Asklovir Tablet & Salep (untuk versi Generik). Versi mahalnya biasanya dikasih Zovirax Tablet dan Salep. Obat ini merupakan antivirus. * Paracetamol, untuk menurunkan panas * Imboost, untuk ketahan tubuh * Isoprenosine Untuk mempercepat daya sembuh sakit cacar ini, saya juga mendapat resep tradisional dari kakak ipar saya (bukan yang dokter) yang terlebih dahulu terkena cacar dan sudah sembuh yaitu minum air perasan lobak. Lobak diparut, diperas dan diambil airnya terus dicampur dengan air garam untuk menghilangkan bau anyirnya. Diminum sehari sekali. Menurut kakak saya, obat ini juga berfungsi sebagai antivirus. Obat antivirus lain yang cukup ampuh adalah Virgin Coconut Oil. Namun, yang perlu dicatat dan diperhatikan, resep obat dari dokter tetap harus diminum, secara bersamaan dengan obat tradisional tersebut. Pantangan Mitos yang berkembang di masyarakat, kalau terkena cacar air jangan mandi atau terkena air. Ada benarnya juga karena bila kita mandi dan bentol-bentol yang ada di tubuh kita pecah dan terkena bakteri dari air, penyakit cacar kita akan lebih parah. Bila anda tidak tahan untuk mandi, mandi dengan memakai airpanas dengan mencampurkan dettol cair untuk membunuh kuman dan pakailan sabun antiseptik (dapat dibeli di apotik). Selain mitos tidak mandi, mitos lain yang beredar di masyarakat adalah jangan keluar rumah dan tidak terkena angin atau udara luar. Bisa jadi,supaya penderita tidak menularkan penyakit ini ke orang yang sehat diluar rumah. Antisipasi untuk anggota keluarga yang tidak terkena Virus laknat ini hampir menyerang seluruh keluarga saya. Daya tularnya sangat tinggi sekali. Bagi anggota keluarga yang belum pernah sama sekali terkena cacar air,jaga kondisi badan, tidur yang cukup dan minum imboost tablet yang dapat dibeli apotik sehari sekali untuk pertahanan tubuh. Dapat juga minum VCO (Virgin Coconut Oil). Obat tersebut setidaknya dikonsumsi sampai semua anggota keluarga yang ada di rumah sembuh dari cacar air. Diusahakan, hindari kontak dengan penderita. Bila memungkinkan, penderita dipakaikan baju yang menutupi seluruh badandan dipakaikan juga masker di mulutnya. Pada saat isteri saya terkena cacar, semua hal tersebut tidak saya lakukan. Saya pun tidak mengkonsumsi obat di atas satu pun. Pada saat itu, saya berkeyakinan bahwa saya tidak akan terkena karena seingat saya dulu, saya pernah terkena cacar air. Asumsi saya salah. Ternyata saya bisa terkena lagi. Pembantu rumah saya yang belum pernah terkena cacar air sekalipun malah sehat-sehat saja meski tinggal satu rumah dengan kami yang kena cacar. Salah satunya, mungkin karena pembantu di rumah, saya suruh mengkonsumsi Imboost dan VCO tadi (mungkin sudah takdir Tuhanjuga). Cacar air dan Ibu Hamil Hal terberat yang saya rasakan adalahketika isteri saya yang mengandung jagoan saya yang berumur 9 bulan 6hari akhirnya terkena cacar, sebelum akhirnya saya tertular juga setelahnya. Ini merupakan ujian dari-Nya. Pada saat itu, di Jakarta sedang terjadi banjir besar. Akses jalan di mana-mana terhambat. Dokter kandungan yang menjadi rujukan isteri saya selama hamil,rumahnya juga kebanjiran setinggi pinggang. Kalau menunggu terlalu lama, kasihan saya melihat isteri saya yang kesakitan dan janin bayi yang dikandungnya. Segera saya larikan isteri saya ke dokter kandungan lain yakni dr. Nadir Chan di RS YPK Menteng. Menurut dokter senior tersebut, cacar air ini sangat berbahaya bila janin sampai terkena. Memang secara teori tidak bisa menular lewat plasenta. Untuk kandungan dengan usia 9 bulan, tidak terlalu masalah. Lain ceritanyakalau terjadi di awal kehamilan terutama trimester awal karena dapat menyebabkan keguguran dsb. Singkat cerita, dr. Nadhir memberikan resep seperti di atas minus obat antivirus yang diminum karenakhawatir membahayakan janin. Sempat di CTG (rekam bayi),alhamdulillah, bayinya masih sehat. Dokter menyarankan, tunggu hingga satu minggu dari HPL (Hari Perkiraan Lahir bayi yang diperkirakan Senin, 5 Februari 2007) sembari menyembuhkan cacar air isteri saya. Setelah lahir, bayi dan ibunya harus dipisah untuk beberapa hari untuk menghindari resiko bayi tertular. ntivirus yang diminum karenakhawatir membahayakan janin. Sempat di CTG (rekam bayi),alhamdulillah, bayinya masih sehat. Dokter menyarankan, tunggu hingga satu minggu dari HPL (Hari Perkiraan Lahir bayi yang diperkirakan Senin, 5 Februari 2007) sembari menyembuhkan cacar air isteri saya. Setelah lahir, bayi dan ibunya harus dipisah untuk beberapa hari untuk menghindari resiko bayi tertular.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: